Sign In

Remember Me

Waspada Isu Terorisme di Media Sosial

Capture

Internet sepertinya sudah menjadi hal wajib di kehidupan sehari-hari. Dengan internet kita bisa menjelajah dunia dalam sekejap, dengan internet kita bisa berpetualang ke negara-negara diluar negeri kita, dengan internet kita bisa berkomunikasi dengan kerbata kita yang jauh disana. Seperti itulah internet hadir untuk memudahkan segalanya menjadi lebih cepat dan singkat seakan memberi kita sebuah lorong waktu.

Banyak diantara kita semua pastilah memiliki sebuah akun media sosial yang bisa kita akses melalui internet. Seberapa banyakkah akun media sosial itu dan seberapa aktifkah kita membukanya. Nyatanya hampir semua penduduk di Indonesia terutama anak remaja cenderung memiliki banyak akun media sosial dan hampir setiap waktu juga membuka atau sekedar mengecek pemberitahuan di akunnya.

Pernahkah kita berpikir bahwa media sosial itu adalah benar-benar tempat yang aman untuk terus diakses. Pernahkah kita berpikir ternyata dibalik kemudahan media sosial membuat kita begitu saja percaya dengan hal yang tersebar luas didalamnya. Dalam tulisannya yang berjudul Terrorism and the Mass Media after Al-Qaeda (2008), Manuel Soriano mengatakan bahwa “without communication terrorism would not exist” atau sederhananya adalah perkembangan teknologi media telah membuat para teroris untuk menyampaikan pesan-pesan teror menjadi lebih luas, ringkas, dan menjangkau orang secara lebih luas dan efektif.

Memasuki jaman teknologi yang semakin canggih ini ternyata para teroris tidaklah diam atau berhenti menghantui kita. Mereka malah beralih ke dunia internet dengan menyebarkan radikalisme melalui media sosial, karena mereka tahu bahwa media sosial adalah cara tercepat menyampaikan isu-isu yang dapat membuat seseorang yang membacanya percaya dan kemudia akan menyebarkanluaskannya lagi bagaikan bola salju.

Bagi teroris, media sosial adalah alat komunikasi paling efektif untuk mencapai tujuannya. Untuk menebar ancaman, teroris tidak perlu lagi bersusah payah untuk memberikan teror setiap hari. Model baru aksi terorisme dengan memanfaatkan media sosial ini membuat aksi terorisme menjadi berlipat dua efeknya, tindakan teror itu sendiri dan dan selanjutnya ketakutan yang menyelinap dengan cepat melalui media sosial.

Ironisnya bagi kita, penyebaran informasi di media sosial tersebut dianggap asli dan terpercaya karena bersumber dari akun-akun yang secara pribadi meliput langsung. Inilah kelemahan kita sehingga kita dengan mudah termakan oleh berita-berita yang belum tentu kebenarannya. Lalu, bagaimana cara kita menanggapi atau menyikapi isu terorisme di media sosial. Jawabannya adalah dengan literasi media yang secara pendeknya adalah dengan menganalisis berita tersebut dan membandingkannya dengan berita lainnya.

Sebelum kita termakan dengan berita-berita palsu yang menyebar di media sosial, ada baiknya juga kita mengambil kepastian isu dari media massa sehingga kita bisa menanggapi berita tersebut dan tidak terburu-buru menyebarluaskannya kembali. Namun sebenarnya dibalik aksi teorisme di media sosial, hal ini juga berdampak baik bagi kita semua karena secara tidak langsung kita memunculkan rasa solidaritas bersama.

Bersama-sama saling menguatkan keyakinan bahwa kami tidak takut akan terorisme, kami akan melindungi seluruh negeri ini bersama-sama dan tidak akan membiarkan para teroris itu beraksi kembali dengan berita-berita palsu mereka. Jika kita terus menguatkan keyakinan ini, percayalah kita sebenarnya telah membuat sebuah dinding besar agar teroris tidak bisa masuk lagi. Ayo sama-sama kita waspada terhadap isu terorisme di media sosial dan kita sma-sama saling menguatkan keyakinan bahwa kita juga adalah pemberantas terorisme di dunia maya.